Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Suharjo Nughroho

Anak kecil kurus itu terduduk di dekat sepedanya yang teronggok di tanah. Menunduk. Sedih. Baru saja dia dimarahin empunya warung karena telur asin yang dititipkannya di sana katanya busuk dan mereka tak mau bayar. Belum hilang baper-nya, sebelum sampai ke warung berikut, rantai sepedanya putus dan dia terjungkal sehingga semua telur asin yang dibawanya pecah.

 

 

Sesampai di rumah, dia membuka buku tulis kumal dari bawah lemari. Ditulisnya semua peristiwa yang baru saja dialami menjadi sebuah diary yang membantunya untuk tak pernah menyerah pada kehidupan yang sulit.

 

 

Kejadian 30-an tahun lalu itu masih membekas di benak Suharjo Nugroho alias Jojo (43). Lahir di Jakarta dari keluarga sederhana, Jojo kecil memang dididik mandiri dan membantu orang tua untuk meringankan beban keluarga. Sejak SD dia sudah terbiasa berjualan telur asin, dan es teh kebo. Beranjak SMP dia meningkat berjualan tas kanvas di sekolah. Dia ambil langsung dari konveksi dekat rumahnya di Cipadu, Kreo Tangerang. Keterpaksaaan ini membentuk karakternya yang tekun dan tak mudah menyerah.

 

 

Meski kehidupannya diwarnai dengan beberapa kejatuhan, tapi pria yang akrab dipanggil Jojo ini tidak pernah menyerah. Kerja keras, ketekunan, idealisme tinggi ditambah keluwesannya berorganisasi membuat karirnya kini semakin cemerlang bahkan didapuk sebagai Ketua Asosiasi Perusahaan Public Relations (APPRI) periode 2017-2020 dan menjadi satu-satunya perwakilan Indonesia untuk PR Organization International (PROI), sebuah asosiasi perusahaan konsultan PR independent terbesar dan tertua di dunia.

 

 

“Saya ini sebenarnya lulus SMA tahun 93, tapi karena tidak lulus UMPTN saya mengulang lagi tahun 94. Bapak saya keras, sekolah sejak SD harus negeri. Bukan karena gengsi, tapi karena bapak gak punya uang,” kata Jojo mengenang masa lalunya. “Selama setahun itu saya belajar saja di rumah, gak berani ketemu orang karena malu,” tambah pria yang akhirnya diterima sebagai mahasiswa FISIP UI jurusan Ilmu Komunikasi angkatan 1994.

 

 

Saat mahasiswa, krisis ekonomi yang melanda Indonesia tahun 1998, membuatnya harus bekerja sambil kuliah. Dengan keahliannya menulis, Jojo mulai magang di harian Republika yang kemudian dilanjut bekerja di Media Indonesia edisi Minggu. Meski begitu, di tengah kesibukannya sebagai mahasiswa dan wartawan, Jojo masih aktif berorganisasi yang kemudian mengantar dirinya menjadi Ketua Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi.

 

 

Karirnya sebagai jurnalis kandas saat gelombang krisis media tahun 2002. Saat itu perusahaan media online banyak yang tumbang, termasuk dirinya yang terkena PHK massal saat bekerja di Astaga.com. Hampir setahun dia menganggur. Melamar sana sini tidak diterima. Mau minta bantuan alumni, gak tau kemana.

 

 

“Saya sempat stress berat karena uang pesangon hampis habis. Mau balik ke rumah malu. Saya marah sekali, buku-buku saya lempar, ijazah saya lempar dan berteriak-teriak percuma saya lulusan FISIP UI kalau cari kerja saja susah!”

 

 

Namun ternyata saat itulah titik poin dimana Jojo berkenalan dengan dunia kehumasan. “Saya masuk ke dunia humas secara tidak sengaja. Latar belakang jurnalis membuat saya ditarik untuk mengurusi media internal di Honda Motor, hingga membangun team humas, dan akhirnya mendapat promosi sebagai Marketing Promotion Head.

 

 

Puas di bidang otomotif, saya memutuskan menerima tantangan baru di HM. Sampoerna. Di perusahaan rokok terbesar di Indonesia ini saya belajar banyak tentang dunia humas dari agensi-agensi PR-nya. Tiga tahun setelah itu, saya mendapat tawaran dari teman sesama alumnus FISIP UI untuk membangun agensi PR sendiri, Imogen PR,” kisah pria yang murah senyum itu.

 

 

Hal yang memantapkan anak ke 3 dari 5 bersaudara itu untuk masuk ke dunia agensi PR adalah kebebasan berkreativitas dan berekspresi seperti ketika dirinya masih menjadi wartawan. Dia pun jatuh cinta pada profesi ini dan cukup aktif untuk mendorong kemajuan dunia kehumasan di Indonesia.

 

 

Belakangan ini Jojo aktif menjadi pembicara tentang dunia humas, dan berkeliling kampus-kampus di Jakarta, Jogja dan Solo, termasuk UGM Yogyakarta, dan Universitas Sebelas Maret Solo. “Itu berawal dari obrolan saya dengan anak-anak magang di Imogen PR. Mereka mengatakan kampus kurang mengajarkan hal-hal praktis dan terkini.

 

 

“Berangkat dari hal itu, saya merasa bahwa ILUNI FISIP UI seharusnya jadi jembatan antara alumni junior serta senior dengan kampus dan teman-teman mahasiswa. Sehingga kita jadi saling kenal dan kekeluargaan terjalin kuat. Pernah acara Pekan Komunikasi HMIK UI mengundang saya dan alumni universitas lain jadi pembicara. Saya tanya, kenapa bukan dari alumni kita sendiri? Jawabnya karena tidak kenal. Lho, padahal kalian punya alumni yang keren-keren,” tutur Jojo bersemangat.

 

 

“Problemnya adalah kita saling tidak kenal. Alumni tidak tahu akses ke kampus, mahasiswa juga tidak tahu alumninya ada dimana. Karena itu ILUNI FISIP UI perlu memformulasikan database alumni yang kuat,” tambahnya. Jadi, gak ada lagi fresh graduated yang hopeless dan marah-marah lempar ijazah seperti saya dulu karena susah dapat pekerjaan,” tandasnya. Jojo menambahkan, ILUNI FISIP UI juga harus inklusif tidak boleh ekslusif agar mengakomodir semua jurusan, jenjang studi dan angkatan.

 

 

Lebih baik jika kita bisa punya satu gedung ILUNI FISIP UI Center yang menjadi ruang temu alumni dan almamaternya sehingga kenamaan FISIP UI dan kebanggaan sebagai warga keluarga besar FISIP UI semakin kuat. Semua ini butuh kolaborasi antara alumni, mahasiswa, kampus. “Dengan Kolaborasi Kita, semua harapan mahasiswa dan alumni atas ILUNI FISIP UI bisa terwujud !” Semoga.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.